ULASAN CERPEN GADIS KECIL BERALIS TEBAL BERMATA CEMERLANG



Pertemuan Singkat yang Mengena

Kita hidup di dunia pasti bertemu dengan orang lain di setiap harinya. Entah itu bertemu dengan orang yang sudah kita kenal, baru kita kenal atau belum kita kenal sama sekali. Bertemu dengan orang lain menjadikan diri kita dikenal oleh mereka. Dan mereka juga saling mengenal kita satu sama lain. Apalagi jika kita dihadapkan pada suatu pertemuan dengan orang baru atau orang asing secara singkat yang mendadak kejadian ini bisa terekam penuh di otak kita. Pasti sulit bagi kita untuk sejenak menghilangkan kejadian singkat itu.  
Setiap orang pasti pernah merasa bertemu dengan seseorang yang aneh-aneh dan menarik. Baik itu dari sikap/perilaku dan gaya bicara mereka. Tapi, berbeda jika kita bertemu dengan seseorang yang belum pernah kita kenal tapi ia menatap kita secara mantap dan tak  ada henti-hentinya. Tak ada jeda. Alisnya tebal dan matanya cemerlang secara tidak langung menandakan bahwa ia menaruh rasa harap yang besar kepada kita. Menginginkan kita untuk dekat kepadanya. Merasa bahwa orang itu mengenal kita. Hal ini termuat dalam cerpen Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang karya A. Mustofa Bisri. Cerpen ini mengungkap tentang sebuah pertemuan singkat yang mengena. Mengena di benak tokoh yang terlibat dalam cerpen ini dan para pembaca yang menyaksikan bayangan tentang kejadian dalam teks cerpennya. Awal penceritaan, hal ini dirasakan oleh sosok aku (pemuda) yang sontak mendadak merasa aneh dan kikuk ketika ada seorang gadis kecil yang menatapnya secara terus menerus. Inilah cuplikannya:
“Ketika pertama kali aku melihatnya, aku sudah bertanya-tanya dalam hati. Aku melihatnya dari jendela kereta api menjelang keberangkatanku dari stasiun kota S menuju kota J. seorang gadis cilik beralis tebal berdiri sendirian di peron, memandangiku.”
          Namun yang menjadi pikiranku saat ini adalah kenapa penulis tidak menyebut nama kota (tempat pertemuan singkat itu) secara detail? Kenapa hanya inisialnya saja yang disodorkan ke pembaca? Contohnya: Stasiun kota S menuju kota J tidak dijelaskan nama kotanya apa? Hal ini membuat pembaca bertanya-tanya kenapa penulis tidak menyebut secara langsung kotanya? Atau mungkin karena penulis merasa ragu atau karena memang pernah mengalami kejadian ini. oleh karenanya, orang lain tidak boleh mengenal nama kota itu.
          Pertemuan singkat yang mengena di benak ini, membuat sosok aku menjadi tak sadar karena ia selalu memikirkan tentang gadis yang sering menatapnya itu. Apalagi ditambah kejadian ini pernah dialami oleh temannya, Sahlan namanya. Kejadiannya hampir sama persis. Hanya saja Sahlan waktu itu tersenyum kepada gadis kecil itu. Kemudian gadis itu tersenyum kembali dan senyumnya manis sekali hingga membuat Sahlan percaya bahwa gadis itu memang ditakdirkan untuknya. Berbeda dengan aku (pemuda) tidak menyuguhkan senyuman sedikitpun pada gadis kecil. Akhirnya gadis kecil itu hanya diam dan terus menatapnya. Kata Sahlan, gadis kecil bernama Shakila, yang ia anggap sebagai adik ini ternyata sekarang telah menjadi istrinya. Memang jodoh tak akan lari kemana-mana. Berikut kutipan sosok Aku bertemu dengan gadis kecil di peron itu.
“Tapi kulihat matanya yang cemerlang tertuju langsung kepadaku dan hanya kepadaku. Saya membayangkan atau mengharapkan dia tersenyum. Bila tersenyum, pasti akan semakin indah bibir mungil itu.”

“Tapi wajah gadis kecil itu tak kunjung hilang dari benakku.”

“Ketika aku keluar, Masya Allah, aku tertegun. Kulihat di depanku, seorang perempuan menatapku. Alisnya tebal, matanya cemerlang, dan senyumnya manis sekali; persis seperti yang dimiliki gadis kecil yang menatapku di stasiun S. Tak mungkin perempuan ini ibu dari gadis cilik itu. Terlalu muda sebagai ibu. Atau kakaknya? Tapi Sahlan pernah mengatakan dia hanya mempunyai seorang adik perempuan.”
          Sebenarnya pertemuan itu telah mengganggu pikiran aku (pemuda) sekaligus menggucang hatinya. Karena ia merasa telah jatuh cinta pada gadis kecil yang pendiam beralis tebal dan bermata cemerlang itu. Karena saking sukanya hanya beberapa menis saja membuat aku tak sadar bahwa yang ia sukai ternyata istri dari temannya sendiri, Sahlan. Karena ia memikirkan apakah ada hubungan antara Shakila dengan gadis kecil yang ditemui oleh aku di peron stasiun kota S? Mungkin saja ada namun penulis belum menuliskannya secara mendalam. Berikut cuplikannya:  
“O ya, kenalkan dulu, ini Shakila,” katanya sambil melirik perempuan bermata cemerlang di sampingnya, “Adikku, Adik ketemu gede, ha-ha. Istriku tercinta!” Deg. Ada sesuatu seperti memalu dadaku. Ternyata istrinya. Asem, kau Sahlan, batinku.”
“perempuan itu mengulurkan tangannya. Dengan kikuk aku pun mengulurkan tanganku. Kami berjabatan tangan dan terasa ada getar yang kurasakan: entah bersumber dari tanganku atau tangannya yang lembut. Kembali berkelebat wajah gadis kecil di stasiun.”
          Tapi di akhir cerita pengisahan cerpen ini tidak dijelaskan secara gamblang atau jelas. Kenapa tiba-tiba sosok aku melihat kembali gadis kecil beralis tebal bermata cemerlang berada di rumah Sahlan, temannya? Seharusnya penulis memberikan informasi lebih mengenai kedatangan gadis kecil tadi yang secara tiba-tiba langsung muncul berada di hadapan aku. Entah karena kedatangannya bersama ibu angkatnya untuk menengok kakak kandungnya, Shakila? Misalkan. Atau kenapa tiba-tiba gadis itu bisa sampai ke kota J padahal kemarin ada di stasiun kota S. Penulis belum menjelaskannya secara detail. Akibatnya pembaca merasa bahwa cerpen ini belum selesai dan masih mengambang dalam pengisahannya.
“Aku tak lagi mendengar apakah Sahlan masih terus berbicara tau tidak karena tiba-tiba gadis kecil beralis tebal dan bermata cemerlang datang, entah dari mana, dan tersenyum manis sekali.”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMARAK KARTINI 2017